My life is nothing but God’s amazing grace!

Satu minggu malam, seperti biasanya, saya menghadiri ibadah Raya Minggu. Pastor gembala saya yang berkhotbah. Namun bukan tema khotbahnya yang akan saya ceritakan di sini, melainkan apa yang terjadi pada saya di ibadah malam itu.

Kami mengadakan ibadah Perjamuan Kudus. Seperti biasanya, sebelum seluruh jemaat diajak untuk makan roti dan minum anggur, ibu Gembala kami akan terlebih dahulu mengajak kami untuk berdoa dan menyembah bersama. Sesi doa dan penyembahan itu berlangsung cukup lama dan satu persatu jemaat mulai menangis. Termasuk saya.

Saya sama sekali tidak tahu mengapa orang-orang menangis. Tetapi saya tahu mengapa saya menangis. Saya menangis dalam doa bukan karena pergumulan hidup. Juga bukan karena terbawa suasana. Malam itu saya menangisi ketidakberdayaan saya. Saya kembali menyadari ketidakberlayakan saya di hadapan Tuhan. Dan ketika saya sadar, saya hanya bisa menangis.

Saya ingat ketika di awal doa dan penyembahan, saya berkata seperti ini pada Tuhan, “Tuhan, aku mau hidup seturut kehendak-Mu. Aku mau hidupku menyenangkan hati-Mu.” Dan entah bagaimana, sesaat saya seperti sempat merasa betapa rohaninya kerinduan hati saya itu. Tetapi Tuhan tidak bisa dibodohi. Sekalipun saya memanjatkan doa rohani dengan sepenuh hati, Dia tahu, saya bisa mengalami kuasa-Nya hanya jika saya memiliki sikap hati yang benar. Malam itu saya sadar, sikap hati yang benar untuk mendekati Tuhan adalah kerendahan hati.

“Berbahagialah mereka yang miskin di hadapan Allah karena mereka yang empunya Kerajaan Allah.”

Tepat ketika saya selesai mengucapkan doa singkat yang menurut saya sendiri sangat rohani, ingatan akan kelalaian, ketidaktaatan, kegagalan, kesalahan dan berbagai keburukan yang saya lakukan sepanjang hidup memborbardir saya seperti tembakan senapan mesin. Dan perasaan saya pun sontak berubah haluan, dari ‘merasa sangat rohani’ kepada ‘merasa sangat bobrok’. Tuhan membuat saya berani melihat diri saya lebih dalam dan lebih jujur. Hasilnya, saya harus mengakui bahwa sesungguhnya sama sekali tak ada kelayakan yang bisa saya perlihatkan kepada Dia. Siapa saya? Tidak ada yang patut saya banggakan di hadapan Tuhan. Kesadaran itulah yang membuat saya tersungkur malu dalam arti jasmani maupun rohani. Dan saya pun menangis.

Malam itu saya sadar bahwa saya bisa saja berdoa agar hidup saya sesuai kehendak Tuhan dan menyenangkan hatinya dan bahkan merasa menjadi manusia rohani karena memanjatkan doa semacam itu. Tetapi kenyataannya, hidup saya sehari-hari, yang semestinya menjadi penyembahan yang sejati buat Dia, jauh lebih sering membuat Dia malu ketimbang bangga.

Kesadaran itu membuat hati saya hancur.

“Tuhan, saya tidak bisa berbuat apa-apa untuk Tuhan….!” saya menjerit putus asa. Saya mau untuk memuliakan, menyenangkan Engkau. Tapi tanpa Engkau sesungguhnya saya tidak bisa apa-apa. Saya bukan apa-apa.

Manusia bukan apa-apa. Engkaulah segalanya.

Di tengah jerit putus asa itulah Tuhan kemudian memperdengarkan suara-Nya. “Anak-Ku, itu yang Aku mau. Aku mau engkau benar-benar mengerti bahwa di luar Aku kamu bukan apa-apa. Kamu takkan bisa memuliakan-Ku dengan kemampuanmu sendiri. ”

Lalu Tuhan membawa saya pada pengertian bahwa sesungguhnya, segala sesuatu dalam hidup saya, adalah semata-mata anugerah. Bahkan ketika saya bersikap tidak pantas sekalipun atau mengalami saat-saat buruk, anugerah Tuhan tetap tercurah buat saya hari lepas hari. Kerinduan untuk hidup sesuai kehendak Tuhan, untuk menyenangkan hati-Nya adalah kerinduan yang mulia. Bahkan harus ada dalam hati setiap anak Tuhan. Tetapi jika saya memiliki kerinduan itu tanpa memiliki pengertian akan siapa saya sesungguhnya, saya hanya akan berakhir pada kerohanian palsu. Saya akan berpikir bahwa Tuhan membutuhkan saya, Tuhan berhutang pada saya dan saya sudah berbuat baik pada Tuhan. Saya tidak akan benar-benar sadar bahwa sesungguhnya saya yang membutuhkan Dia, berhutang kepada-Nya (hutang yang takkan pernah bisa saya bayar lunas) dan bahwa Dialah yang sudah berbuat baik kepada saya.

Sering saya mendengar orang berkata, “Semua karena Tuhan ” ketika mereka dipuji atas suatu hal baik yang mereka alami atau lakukan. Namun tidak semua terdengar tulus. Kita tidak selalu sadar siapa kita sesungguhnya. Ada saat-saat di mana kita merasa sama seperti Tuhan lalu di waktu lainnya kita malah berpikir kita lebih hebat dari Dia. Bibir kita berkata, ” Semua karena Tuhan” namun sikap kita seolah berkata sebaliknya. Kita tidak memerlukan Dia. Dialah yang memerlukan kita. Tanpa Dia kita toh tetap dapat hidup dengan baik.

Saya sendiri pernah mengalami saat ketika saya merasa hebat dan mampu mengurus hidup saya sendiri tanpa campur tangan Tuhan. Namun malam itu, saya tersadar siapa saya sesungguhnya. Kalau bukan Tuhan yang membuat diri saya berharga, yang rela mati untuk menyelamatkan saya … kalau bukan Tuhan yang memberi saya kekuatan dan kemampuan… membuat saya berharga dan mulia…saya sebenarnya cuma debu kotoran saja. Saya katakan debu kotoran karena manusia diciptakan dari debu dan kotor karena dosa.

Saya bersyukur disadarkan kembali oleh Tuhan malam itu sehingga saya kembali mengandalkan Tuhan sepenuhnya. Saya kembali bergantung total pada kuasa, kasih, dan anugerah-Nya. Saya mengalami apa yang dikatakan oleh Pastor gembala saya bahwa air mata yang tercurah di hadirat Tuhan adalah air mata yang membasuh semua kotoran sehingga kita bisa melihat Dia dengan lebih jelas.

Luar biasa! Setelah melihat siapa saya sesungguhnya di hadapan Tuhan, saya baru bisa melihat bagaimana sesungguhnya Tuhan!

Sungguh Dia itu…

dahsyat luar biasa!!!

Advertisements