Ojek, ai lop yu pul!

Seorang mahasiswi baru begitu khawatir akan terlambat mengikuti kelas pagi pertamanya. Segera setelah melangkah keluar pintu stasiun, tanpa berpikir dua kali ia memanggil seorang tukang ojek untuk memboncengnya ke kampus. Hanya dalam waktu kurang dari satu menit – ya, satu menit – mereka sudah sampai. Tukang ojek tampak tertawa girang sedangkan si mahasiswi cuma bisa pasang tampang masam.

Ternyata jarak dari pangkalan ojek di dekat pintu stasiun ke kampus FISIP tempat mahasiswi baru itu berusaha mendapat gelar sarjana sangatlah dekat. Si mahasiswi tentu tidak mengetahui hal itu berhubung selama beberapa hari kuliah dia selalu mengambil jalan pintas melewati hutan. Namun pagi itu, karena begitu cemasnya bakal terlambat masuk kuliah pagi, ia memutuskan naik ojek. Kalau tahu ternyata jaraknya hanya sedekat itu, tentulah si mahasiswi tidak perlu merasa harus naik ojek agar tidak terlambat. Yang lebih membuatnya kesal adalah bukan hanya dia harus mengeluarkan uang untuk sesuatu yang sesungguhnya tidak perlu, namun juga dia harus membayar lebih banyak karena si tukang ojek ternyata tak punya cukup uang kembali.

Begitulah pengalaman pertama saya dengan ojek. Walau agak kurang manis, perlahan namun pasti, ojek menjadi salah satu angkutan andalan saya untuk pergi ke mana-mana. Dari mulai pergi ke acara santai seperti nongkrong bareng teman sampai ke acara yang serius dan sangat formal seperti wawancara kerja atau janjian sama klien. Alasan mengapa saya begitu mengandalkan ojek adalah sangat logis. Pertama, saya tidak bisa menyetir mobil atau motor, jadi mau tak mau saya harus memakai kendaraan umum. Kedua, saya tak hafal jalan-jalan Jakarta. Saya juga tidak hafal rute bis umum. Sehingga jika harus pergi ke lokasi yang saya kurang kenal, saya akan mengalami kesulitan. Ketiga, sebagai seorang perceiver sejati, entah bagaimana, saya kerap menemukan diri sendiri berangkat ke suatu acara dalam keadaan nyaris terlambat (dan kadang sungguh-sungguh terlambat). Nyaris terlambat ikut ibadah natallah, nyaris terlambat ketemuan sama temanlah, nyaris terlambat wawancara kerjalah, nyaris terlambat ke pesta pernikahan sahabat, nyaris terlambat memenuhi janji dengan dokter gigi… .

Pendek kata, saya perlu alat transportasi yang memenuhi dua kriteria khusus untuk mengantarkan saya ke mana-mana. Kriteria khusus itu adalah: pertama, kendaaraan itu harus bisa mengantarkan saya tepat ke tempat yang dituju sehingga saya tak perlu repot berpikir jalan mana yang harus saya ambil. Nah sekarang coba saya tanya, selain sopir kawakan, sopir apalagi yang hapal mati jalanan ibukota? Sopir bis bisa jadi hanya hapal mati rute yang dia jalani setiap hari. Sopir taksi? Wah, bukan jaminan mutu juga. Saya pernah naik taksi yang sopirnya setengah mati bingung bagaimana caranya ke JCC dari Jl. Pemuda, Rawamangun. Saya akhirnya repot memberi tahu rute yang harus dia ambil dan merasa bingung setengah mati bagaimana dia bisa jadi sopir. Dibanding kendaraan lain yang bisa mengantarkan penumpang tepat ke sasaran tuju, ojek memiliki keunggulan yang sulit tersaingi. Para tukang ojek itu kelihatannya hapal luar dalam wilayah Jakarta sekalipun mungkin mereka belum pernah membaca peta Jakarta bikinan Gunther.

Kedua, berhubung suka berangkat dalam keadaan nyaris terlambat, saya butuh kendaraan yang cepat. Sangat cepat. Yap, dalam hal ini, kecepatan adalah kuncinya. Dan siapa yang tidak tahu tabiat pengendara motor ibukota yang pemberani? Sebagian bahkan – saya percaya tukang ojek masuk kategori yang ini – berani mati. Salip kanan, salip kiri. Terabas sana, terobos sini. Bagi pengendara motor model begini, jalan raya bagaikan hutan rimba. Rambu lalu lintas tidak ada bedanya dengan pohon. Cukup dilirik sekilas. Saya bahkan pernah menaiki ojek yang berjalan melawan arus lalu lintas. Si tukang ojek sengaja melakukannya karena kalau dia berjalan searah dengan arus kendaraan maka dia harus memutar cukup jauh. Walau tidak setuju dengan caranya mengendarai motor yang tidak bertanggung jawab dan tidak taat azas, saya harus mengakui bahwa cara berkendara yang setengah liar itulah yang memungkinkan saya sampai di tempat tujuan tepat waktu.

Kedua faktor inilah yang membuat saya sangat memahami perasaan Cinta Laura saat dia mengeluh hujan-becek-tak ada ojek. Tanpa kita sadari ojek ternyata memiliki nilai dan fungsi yang sangat strategis. Hendak ke suatu tempat yang kurang akrab? Ojek akan mengantarkan sampai ke lokasi, bahkan kalau perlu sampai ke depan pintu ( saya juga pernah punya pengalaman dalam hal ini, tapi kalau diceritakan di sini, tulisan ini akan jadi sangat panjang ). Diburu waktu? Ojek akan mengantarkan dalam sekejap. Dijamin, baru pasang helm sudah sampai. Kalau tidak percaya, silakan baca ulang cerita di bagian awal tulisan.

Tetapi belakangan, saya mendapati munculnya faktor penyebab baru mengapa saya makin gemar ber-ojek ria: malas. Saya malas naik turun bis yang saya tidak paham rutenya, saya malas naik taksi yang argonya suka berbeda padahal rutenya sama, saya malas naik bis Trans Jakarta yang sering penuh dan (kata orang) banyak copetnya, saya malas naik bajaj karena bising, saya malas repot berkendara. Jadi, karena malas repot, saya jadi tambah rajin naik ojek. Tukang ojek pun senang. Konsumen mereka bertambah satu dan setia pula. Bagaimanapun, saya kira para tukang ojek memang tidak perlu khawatir tidak ada yang memakai jasa mereka. Sebab – memakai istilah marketing – pasar mereka itu niche: terbatas tapi terjamin.

Begitulah.

Advertisements