To see with love

Penulis Philip Yancey pernah menceritakan pengalamannya menyaksikan sekawanan paus beluga mencari makan di lepas pantai Alaska. “Sebuah pemandangan yang sunyi dan kemegahan yang besar,” ungkapnya penuh rasa takjub.

Walau belum pernah menyaksikan pemandangan serupa, namun saya bisa memaklumi perasaan Yancey. Ia telah melihat secara langsung sebuah fenomena alam langka. Tidak semua orang bisa memperoleh pengalaman semacam itu. Lagipula, secara visual, menyaksikan serombongan paus beluga putih keperakan yang muncul dengan anggun di sela-sela deburan ombak laut Alaska tentulah sangat spektakuler.

Ketika saya sedang mengerjakan tulisan ini di sore hari ini, saya tidak sedang berada di Alaska ataupun di tempat eksotis lainnya. Saya hanya sedang duduk di kamar, mencoret-coret kertas sambil berkali-kali memandang keluar jendela. Melalui jendela kamar, saya dapat melihat pohon-pohon besar yang tumbuh di sekitar lapangan rumput di depan rumah. Saya bisa melihat dengan jelas ranting-ranting dan dedaunan pohon yang riuh bergoyang kian kemari, dihembus angin musim pancaroba.

Sebenarnya, area hijau yang ada di sekitar rumah saya tidak luas. Di balik pohon-pohon besar dan hijau itu sesungguhnya berdiri rapat gedung-gedung berwajah kaku dan membosankan khas kota Jakarta. Malahan, persis di seberang lapangan rumput itu tak lain tak bukan adalah jalan raya yang selalu hiruk-pikuk sejak lepas subuh sampai lewat tengah malam. Karena itulah saya selalu sangat bersyukur pada Tuhan untuk keberadaan pohon-pohon besar itu. Terutama karena letaknya yang strategis, nyaris lurus sejajar dengan jendela kamar, telah berhasil memberikan memberikan pemandangan hijau meneduhkan. Membuat kegersangan gedung-gedung menjadi tampak samar.

Sekalipun saya tidak sedang melihat pemandangan sefantastis kawanan paus mencari makan, namun gerakan dahan, ranting dan dedaunan yang ditiup angin sungguh memberikan perasaan nikmat sekaligus khidmat pada saya. Di mata saya, dahan dan ranting yang pasrah diombang-ambingkan angin, daun-daun yang jatuh berguguran, serta burung-burung pipit yang terbang dan hinggap di antara dahan pohon tampak begitu dramatis. Seakan-akan mereka sedang memainkan suatu pertunjukan istimewa dengan iringan orkestra angin senja yang dimainkan dengan begitu bergairah.

Namun saya juga sadar, bahwa seberapapun hal-hal tersebut menarik bagi saya, ada saja sejumlah orang yang menganggap semua hal itu adalah biasa. Apa istimewanya daun-daun jatuh? Burung pipit terbang? Dahan dan ranting yang bergoyang?

Menyaksikan sekelompok paus mencari makan begitu dekat di hadapan mata tentu menjadi pengalaman fantastis bagi siapapun juga. Namun apakah semua orang yang mengalaminya juga mampu memandang daun-daun yang berguguran dengan perasaan yang sama takjubnya?

Saya lalu bertanya pada diri sendiri, apa yang menyebabkan hal-hal yang begitu biasa dan alamiah di mata sebagian orang dapat terlihat sangat istimewa di mata yang lain? Apa yang mendasari perbedaan persepsi semacam ini: biasa bagi yang satu, luar biasa bagi yang lain; sepele bagi si Ini, berarti bagi si Anu?

Tentu kita semua bisa memberikan jawaban yang beragam seperti: tingkat pemahaman, pengalaman hidup, relasi subyek-obyek, dan seterusnya. Tapi saya pikir, kesemua jawaban rasional itu bisa dirangkumkan menjadi satu alasan mendasar.

Saya lalu teringat pada kisah Jhonny Linggo. Ceritanya begini: dahulu kala di suatu desa ada sebuah kebiasaan untuk memberikan sapi sebagai mahar pernikahan. Umumnya seorang gadis dihargai dua ekor sapi sedangkan gadis yang paling cantik biasanya memperoleh tiga ekor sapi. Namun ada seorang gadis miskin yang menurut seluruh penduduk desa tampak sangat tidak menarik sehingga diam-diam ayah si gadis berdoa paling tidak anaknya bisa memperoleh seekor sapi di hari pernikahannya. Itu pun jika ada yang mau menikahinya.

Sampai suatu ketika, Jhony Linggo datang ke desa itu. Seorang pemuda tampan, baik hati dan kaya. Entah bagaimana, ia jatuh cinta pada si gadis miskin dan melamarnya. Tentu saja peristiwa itu membuat seluruh desa gempar. Namun yang membuat penduduk desa kaget setengah mati adalah jumlah mahar yang diberikan Jhony Linggo pada si gadis. Pemuda itu tidak memberikan satu, dua atau bahkan tiga ekor sapi. Ia memberikan delapan! Di mata Jhony Linggo, gadis itu tampak cantik luar biasa sehingga pantas dihargai delapan ekor sapi.

Walau kisah ini hanyalah sebuah cerita rakyat Amerika yang artinya mungkin tidak pernah terjadi, tetapi di benak kita seperti selalu ada perasaan bahwa peristiwa tak terduga semacam itu bisa terjadi kapan saja dan di mana saja. Mengapa begitu?

Jawabannya adalah satu alasan mendasar itu tadi. Satu alasan yang sama dengan alasan mengapa seorang anak begitu istimewa di mata ibundanya sekalipun bagi orang lain dia bukanlah siapa-siapa. Sama juga dengan alasan bagaimana seorang gadis yang kelihatannya begitu sederhana dan biasa saja bisa membuat seorang pemuda tergila-gila.

Alasan yang hanya terdiri dari dua kata namun merangkum semuanya: cara pandang. Artinya, kadar keindahan sebuah obyek bukanlah terletak pada seberapa fantastisnya obyek tersebut secara kasat mata melainkan seberapa mampu si Subyek memandangnya dengan penuh cinta. Seberapa sungguh ia menghargai apa yang dilihatnya.

Memandang dengan penuh cinta bukanlah sikap yang didorong oleh perasaan cinta buta. Bukan berarti kita menutup mata pada ketidaksempurnaan yang ada. Tetapi cinta memampukan kita melihat dan menghargai sang Obyek dengan begitu dalam sampai ketidaksempurnaannya tidak lagi mampu menandingi nilai keindahan yang kita dapati pada obyek tersebut.

Memandang dengan cinta tidaklah berbicara tentang seberapa dalam obyek tersebut layak dihargai namun semata-mata tentang seberapa dalam penghargaan yang mampu diberikan sang Subyek. Itu artinya sesuatu yang sangat subyektif. Biasa bagi yang satu, luar biasa bagi yang lain. Tergantung cara pandangnya. Dan jika kita memandang dengan penuh cinta, maka sesuatu itu akan menjadi sangat indah dan berharga.

Ah, sekarang saya jadi lebih bisa memahami perasaan Bapa ketika IA berkata saya berharga di mata-Nya. saya jadi punya pemahaman lebih dari ucapan Bapa yang menyebut saya “mulia”.

IA memandang saya sebagai pribadi yang indah.
IA melihat saya sebagai pribadi yng berharga.
IA menilai saya sebagai pribadi yang mulia.

Bukan. Bukan karena saya memang cantik, indah atau fantastis luar biasa. Namun semata-mata karena IA memandang saya dengan penuh cinta.

Dan ketika hari-hari jahat datang, ketika saya hilang keyakinan diri, ketika saya jatuh dalam kesalahan-kesalahan tolol lalu tergoda untuk menyangkali diri sendiri, saya tahu bahwa saya masih punya harapan. Saya selalu bisa menengadah ke atas dan menemukan sepasang mata dari Pribadi yang Maha Sempurna memandang saya dengan penuh cinta dan IA berkata, “Oleh karena Engkau berharga di mata-Ku dan mulia, dan aku mengasihi engkau…”

Maka saya tahu, segala sesuatu akan baik-baik saja. Dan karena cinta-Nya, saya akan menjadi luar biasa!

Advertisements