Anyelir di perjumpaan keempat

Ini sudah kali yang ketiga aku melihat gadis itu. Pertama kali aku melihatnya di sebuah kios bunga samping halte tempat aku berdiri menunggu bis. Seorang gadis berkulit pucat yang tampak begitu asyik memilih bunga di pagi hari yang sibuk tentu bukan pemandangan biasa. Mungkin itu sebab mengapa aku tidak bisa menahan diriku untuk tidak memperhatikannya. Ia sendiri kelihatannya tidak sadar kalau sedang diperhatikan. Wajahnya yang tirus dengan ekspresi acuh tak acuh seakan menyiratkan keasyikannya berada di sebuah dunia, entah di mana. Aku ingat, sebelum naik ke dalam bis, aku masih sempat melihat sekilas ke arahnya. Gadis itu sedang memberikan sejumlah uang kepada penjaga kios sebagai ganti bunga pilihannya: setangkai anyelir.
Perjumpaan kedua -aku sebenarnya tidak yakin apakah hal ini pantas disebut perjumpaan karena kelihatannya hanya aku yang sadar kalau kami pernah bertemu- terjadi di tengah hujan deras yang mengguyur kota di penghujung bulan Mei. Lagi-lagi, saat itu aku sedang berada di sebuah halte. Saat termenung menunggu bis, tiba-tiba kulihat gadis itu berjalan tergesa di trotoar seberang jalan. Ada sensasi aneh yang kurasakan saat memandanginya berjalan melintasi ruang pandangku. Seperti kebanyakan orang yang tak menduga kalau hujan deras akan turun hari itu, gadis berkulit pucat yang manis itu tidak membawa payung dan basah kuyup kehujanan.
Dari sisi jalan yang berbeda, aku bisa melihat tubuh kurus itu menggigil kedinginan seraya berjalan tergesa dengan kedua tangan beberapa kali disilangkan rapat ke dada. Ia kemudian berlari-lari kecil lalu berlari lebih cepat sampai akhirnya bayangannya sudah ada di ujung bola mataku untuk kemudian lenyap dari pandangan. Meninggalkan rasa dingin dan kesepian yang menusuk di hati seorang pemuda yang -entah kenapa- jadi merasa begitu kehilangan.

Dan hari ini, hanya berselang dua minggu sejak aku melihatnya di tengah hujan itu, untuk yang ketigakalinya kami berjumpa. Kali ini aku tidak sedang berada di sebuah halte melainkan di kedai kopi tempat aku biasa menghabiskan jam istirahat makan siang. Kedai kopi dekat kantor ini memang tidak pernah ramai pengunjung, bahkan di jam-jam makan siang seperti ini. Mungkin karena suasana tempo dulu yang kental terasa, yang tidak cocok dengan irama dunia pekerja yang dinamis dan modern. Tapi bagiku, mebel-mebel antik serta suara lembut penyanyi oldies yang berasal dari gramofon tua benar-benar memberi warna di hari-hari kerjaku yang terasa monoton dan membosankan.

Bel angin di atas pintu masuk berbunyi ketika aku membuka pintu kedai. Kulangkahkan kaki ke dalam dan duduk di salah satu kursi. Pak tua pemilik kedai segera memunculkan diri begitu mendengar bel angin berbunyi. Sambil mengangkat kedua alisnya, ia menatapku.

“Biasa Joe,” jawabku singkat. Lalu dia masuk lagi ke dapur. Tak berapa lama ia muncul di hadapanku dengan membawa sepiring nasi bakar dan secangkir vanilla latte. Tidak salah lagi, itulah menu makan siang favoritku.

“Mau pesan yang lain lagi? Hari ini istriku membuat sup kepiting,” katanya sambil meletakkan pesananku di atas meja. Aku mendongak dan menatapnya, “Mungkin nanti, Joe.”

Lelaki tua itu mengangguk sekilas lalu kembali masuk ke dapur. Seraya menyeruput vanilla latte, pandanganku mulai menjelajah isi ruangan.

Di meja samping kanan ada sepasang suami istri lanjut usia yang sedang asyik mengobrol. Sesekali mereka terkekeh pelan. Dua cangkir teh di atas meja mereka sudah kosong. Aku menduga mereka sudah lama duduk di dalam sini namun tampaknya mereka masih belum hendak pergi. Beberapa kali kulihat tangan si kakek menggenggam tangan si nenek dengan hangat dan mesra. Aku tak bisa menahan senyum ketika kusadari ada rona merah membiasa di pipi keriput si nenek. Ah ya, romansa memang tak pernah kenal usia.

Bola mataku bergeser. Kali ini aku melihat lurus ke depan. Selang beberapa meja kosong kulihat seorang pria botak setengah baya berbadan tambun sedang serius membaca majalah bisnis. Sesekali ia menggeleng-gelengkan kepala, menaruh majalah di atas meja lalu memasukkan dua suap nasi goreng sekaligus ke mulutnya, mengunyahnya, meraih majalah dan mulai membaca lagi. Beberapa saat kemudian kepalanya kembali menggeleng-geleng, dan kembali ia menyuapkan nasi goreng lalu membaca lagi. Hanya beberapa jenak, ritual kecilnya itu sudah membuat kepalaku pening. Cepat-cepat kualihkan pandangan ke bagian lain ruangan.

Ternyata di satu meja di pojok ruangan ada seorang gadis. Jantungku berdesir saat kusadari bahwa gadis yang sedang duduk diam di sudut itu adalah dia; si gadis misterius yang diam-diam kucinta tanpa aku mengenalnya. Tubuhnya agak tertutup partisi berukir yang dimaksudkan sebagai penghias ruangan. Itu sebabnya aku tidak segera menyadari keberadaannya. Kupicingkan mataku untuk bisa lebih jelas memandang.

Ia tidak sedang menatap ke arahku melainkan ke arah sebaliknya, ke luar jendela. Kedua tangannya yang nampak begitu kurus dan juga begitu pucat, tampak seakan tergeletak begitu saja di atas meja, mengapit segelas lemonade yang masih penuh. Rambutnya yang panjang kemerahan namun terlihat sangat halus bergoyang sedikit-sedikit terkena hembusan kipas angin yang tergantung di langit-langit. Ia memakai gaun polos berwarna biru tua yang tepi bawahnya nyaris mengenai lantai. Aku terpana. Di mataku, sosok itu tampak begitu indah. Aku terus menatapnya.

Tubuh kurus itu tampak begitu diam. Bisa dibilang, gadis itu duduk mematung di pojok situ. Kuseruput latteku dalam-dalam lalu kembali memandanginya, berharap dia memalingkan wajahnya ke arahku. Tak sampai satu menit, harapanku terkabul. Tiba-tiba ia melakukan gerakan kecil dan untuk sesaat lamanya, ia mengarahkan wajahnya kepadaku dan pandangan kami pun bertemu. Dadaku serasa bergemuruh. Rasanya ingin sekali tersenyum tapi entah mengapa seluruh tubuhku terasa kaku. Tatapan mata gadis itu bagiku tampak aneh, seolah ia sedang berada di tempat lain. Wajah tirusnya terlihat cantik luar biasa namun begitu pucat, seperti mayat. Ekspresi wajahnya sedih sekaligus murung. Tanpa sadar, aku lantas memalingkan muka. Tak tahan melihat keindahan yang mempesona sekaligus menakutkan itu.

Kuteguk habis minumanku dengan perasaan tidak tenang dan tanpa menoleh lagi ke arahnya, aku mulai makan. Aneh, kenapa aku jadi demikian tegang? Bayangan wajah gadis itu mulai berkelebatan memenuhi kepalaku. Di sinilah kami berdua sekarang. Apa yang seharusnya kulakukan? Apakah aku perlu menghampirinya untuk bertegur sapa? Apakah aku tersenyum saja dulu dan melihat reaksinya baru kemudian mendekatinya? Akankah ia menganggapku aneh jika kukatakan padanya bahwa sebenarnya kami pernah bertemu? Sekali di kios bunga dan kali kedua di tengah hujan? Pantaskah jika aku bertanya siapa sebenarnya dia dan mengapa ia selalu tampak begitu sedih?

“Bagaimana, masih mau pesan yang lain?” Pertanyaan Joe mengagetkanku. Entah kapan datang, tiba-tiba saja ia sudah berdiri di samping meja. Kutarik dia supaya lebih dekat.

“Joe, apakah kau kenal gadis yang duduk di pojok sana itu?” bisikku.

” Gadis yang mana? ” ia malah balik bertanya.

” Yang duduk di pojok dekat palem itu, Joe. Yang pakai gaun biru, ” jawabku tak sabar. Memangnya ada berapa gadis sih di kedai ini?

Joe tertawa pelan, “Oh, maksudmu yang baru saja pergi itu?”

Seperti orang tolol aku terperangah. Ia sudah pergi? Kapan? Aku langsung melihat tempat duduknya. Benar saja, kursi itu sudah kosong. Bagaimana mugkin aku bisa tidak menyadari kepergiannya? Sambil menggerutu dalam hati aku bergegas ke luar kedai. Mudah-mudahan aku masih bisa menemukannya.

Walau sudah berlari ke sana ke mari seperti orang gila, aku tetap tidak melihat sosok gadis itu. Terpaksa aku berjalan kembali ke kedai sambil tidak habis menyesali diri karena tidak berani menyapa saat ada kesempatan.

“Bagaimana? Ketemu? ” tanya Joe. Aku menggeleng lemah. Kurogoh saku celana untuk mengambil uang pembayar makan siang. Tidak ada keinginanku untuk berlama-lama di sini.

” Tidakkah engkau mengenalnya, Joe,” tanyaku penuh harap. Joe menggeleng tegas, “Aku sendiri baru melihatnya tadi. Seingatku, gadis itu tidak pernah mampir ke kedai ini sebelumnya. Memangnya kenapa sih, dengan dia?”

” Sudahlah, lupakan saja, ” ujarku seraya menyerahkan lembaran uang. Pria berambut kelabu itu mengangkat bahu acuh tak acuh lalu mulai menghitung kembalian. Untuk terakhir kali di hari itu, kutatap meja bekas tempat si gadis misterius. Baru kusadari ada sesuatu tertinggal di sana. Hanya beberapa detik aku sudah mengetahui benda apa yang tergeletak di dekat gelas lemonade. Tidak lain adalah setangkai anyelir.

***

Anyelir itu kubawa pulang dan kutaruh di dalam vas yang kubeli khusus untuknya. Vas itu kuisi air yang selalu kuganti setiap hari. Setiap kali hendak berangkat kerja dan setibanya di rumah setelah pulang kantor, aku selalu menyempatkan diri untuk menyapanya. Kata-kata yang paling sering kuucapkan mungkin lebih terdengar seperti doa: jangan dulu layu sebelum aku bertemu dengan pemilikmu. Kadang-kadang aku menyentuh dan membelai kelopaknya sembari membayangkan menyentuh dan membelai gadis itu. Dan apakah ini yang dinamakan keajaiban cinta, entahlah. Nyatanya, anyelir itu tetap segar dan tidak layu meski sudah hampir satu bulan di rumahku. Walau merasa sangat aneh, aku juga merasa sangat senang karena bagiku anyelir itu adalah simbol kehadiran sang gadis di rumahku. Sekarang ia bahkan tak lagi kutaruh di atas meja pojok di ruang tamu, melainkan kuletakkan di atas meja samping tempat tidur. Biar setiap kali aku bangun pagi dan hendak tidur malam, aku bisa melihatnya. Siapa tahu jadi bisa bermimpi bertemu gadis itu. Lumayan untuk mengobati rindu.

***

“Aku rasa kau mulai aneh, Tim,” kata Joe sewaktu aku mampir ke kedainya dan menceritakan semuanya.

“Apa maksudmu?” tanyaku sengit. Seperti biasa, keadaan kedai itu nyaris kosong. Selain aku, hanya ada seorang pengunjung lain, seorang nenek tua yang memesan secangkir teh dan sepotong keik jeruk lalu duduk tenang sambil menyulam. Mungkin dia lupa kalau saat itu dia sedang tidak berada di rumahnya melainkan di sebuah kedai kopi.

“Bagaimana kau bisa memiliki ikatan emosi yang begitu kuat terhadap seorang yang tidak kau kenal dan juga tidak mengenalmu? Apa yang kau lakukan terhadap anyelir itu sungguh ganjil, ” kata Joe blak-blakan. Keterusterangannya membuat hatiku panas dan sungguh menyesal rasanya telah menceritakan semua kepadanya.

” Tidak ada yang mustahil bagi cinta, Joe, ” kataku sentimental. ” Dan walaupun kami belum pernah sekalipun berbicara satu sama lain, aku merasa antara aku dan dia ada suatu hubungan istimewa. Tentu sekarang aku tidak bisa menjelaskan seperti apa persisnya hubungan itu. Atau bagaimana setangkai bunga potong bisa tetap segar selama satu bulan. Tetapi itulah yang terjadi dan itu adalah keajaiban, ” kataku mantap.

“Aku menghargai kau menceritakan semua ini padaku. Tapi entahlah Tim…” ia mendeham sejenak, “Maaf, aku sedang sibuk. Kutinggal dulu sebentar ya.”

Tawaku seakan mau meledak. Sibuk apa si Joe? Satu-satunya orang yang potensial membuat dia sibuk hanyalah seorang nenek yang alih-alih hendak makan di kedai tapi malah jatuh tertidur dengan gulungan benang sulam di pangkuan. Dengan mendongkol, aku bergegas pergi.

Setelah percakapan menjengkelkan itu, malamnya aku bermimpi. Gadis itu datang dan mengajakku ke sebuah taman. Tepatnya taman anyelir. Ke manapun mataku memandang, yang terlihat hanyalah tanaman bunga anyelir dalam berbagai warna. Ada anyelir putih, kuning, merah, ungu, biru, oranye, jingga, bahkan ada yang bercorak bintik-bintik!

Di taman itu kami saling bercerita. Kisahnya dan kisahku.

“Aku tahu kau yang mengambil anyelirku yang tertinggal di kedai, ” katanya. Aku tersenyum malu.

” Kau tak perlu lagi menyimpannya. Aku akan memberi yang baru. ” ia berbisik.

Berarti kita akan bertemu lagi! Pikirku senang. Kapan?

***

Jam enam pagi. Itu tepatnya ketika wekerku berbunyi dan membangunkanku dari mimpi. Astaga! Tanpa sadar kutepuk dahiku. Aku lupa menanyakan namanya.

Cuaca pagi ini cukup cerah namun tak seperti biasanya, arus kendaraan di jalan yang kulalui untuk mencapai kantor bergerak sangat lambat. Ada apa ya? Bis bergerak lambat dan agak di depan kulihat kerumunan orang. Para penumpang di bis tiba-tiba mulai berbisik-bisik.

” Katanya sih korban tabrak lari, ” terdengar satu suara. Kemudian menyusul bisikan lain: korbannya wanita, tubuhnya masih tergeletak di sana, kemungkinan ditabrak pengemudi mabuk tadi malam. Lalu terdengar sirine ambulans dan suasana dalam bis semakin riuh. Tak tahan, aku segera turun dari bis dan berjalan menuju keramaian orang.

Sesaat sampai di lokasi kejadian, petugas rumah sakit sudah mengeluarkan tandu untuk menggotong mayat korban. Seumur hidup, baru kali ini aku melihat langsung kejadian seperti ini hingga merasa sedikit ngeri. Sosok tubuh tak bernyawa itu terbujur kaku. Korbannya memang wanita.

Tiba-tiba pandanganku menjadi nanar dan perutku terasa mual.

***

Terik matahari membangunkanku. Ketika aku tersadar, kudapati kemejaku sudah basah karena keringat dan dompetku raib. Seperti orang linglung aku bangun lalu mulai berjalan tertatih-tatih.

Aku akan memberimu anyelir yang baru.

Kuambil setangkai anyelir yang tergeletak di atas rerumputan. Sebagian kelopaknya berwarna merah; terkena darah.

Advertisements