One day at my diary

(Once upon a time I wrote a diary. This article you are about to read is an excerpt of the private journal.)

Seminggu belakangan ini saya membaca
Beyond All Pities, sebuah catatan harian seorang pemulung Brazil, Carolina Maria de Jesus.

Awalnya saya merasa bersemangat. Seperti yang diungkapkan dalam kata pengantar, buku ini cukup fenomenal karena sangat jarang ditemukan seorang pemulung memiliki catatan harian. Bisa jadi Carolina Maria de Jesus adalah pemulung pertama (walau mungkin bukan satu-satunya) yang mencatat pengalaman hariannya secara tertulis. Tapi belakangan, antusiasme saya surut. Kejujuran mengungkapkan perasaan serta penuturan yang sangat mendetil ternyata menimbulkan sedikit masalah. Carolina sangat jujur dengan apa yang ia rasakan, entah itu amarah, kesedihan, kekecewaan, atau bahkan rasa muak. Dan ia mengungkapkannya begitu saja. Ia tidak menghaluskan. Selain itu ia cukup rajin mencatat apa saja yang ia alami atau lakukan setiap hari secara detil walaupun kegiatan hariannya bisa dibilang tidak memiliki banyak variasi. Saya harus akui bahwa saya jadi merasa agak bosan.

Satu hal yang cukup mengherankan saya adalah, mengapa saya tidak merasakan apapun saat membaca buku ini? Saya tidak marah, tidak terharu, tidak sedih. Maksud saya, ini ‘kan catatan harian dari seorang papa yang hidup penuh kesulitan, yang miskin dan tersingkirkan. Ini adalah kisah yang seharusnya menyentuh rasa kemanusiaan setiap orang. Tapi nyatanya, perasaan saya datar-datar saja, tuh.

Memang sih, pada beberapa bagian, saya merasa sedikit iba, lalu muncul juga secuil rasa sedih atau geram, bahkan juga …jijik. Tapi kalau dipikir-pikir, bukankah saat saya membaca novel drama, saya juga bisa merasakan hal yang sama? Padahal semua cerita dan karakter di dalam novel hanyalah rekayasa. Sedangkan ini adalah catatan atas kejadian-kejadian riil dari pribadi yang sungguh ada. Toh, emosi saya tidak tergerak.

Batin saya justru terusik saat membaca kata pengantar dari penerjemah buku tersebut (buku ini awalnya diterbitkan dalam Bahasa Portugis kemudian diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris) yang menyatakan bahwa di negara asalnya, buku ini menjadi best seller. Masyarakat Brazil terkejut – lebih tepatnya takjub – saat mengetahui ada seorang pemulung yang (bisa) menulis catatan harian. Mereka kemudian berduyun-duyun menyerbu toko. Saat acara temu penulis dan tanda tangan buku, antrian mengular sampai ke luar toko dan dalam sekejap, seorang pemulung berubah menjadi seorang selebriti.

Saya merasa ironis saat membayangkan orang datang berbondong-bondong untuk membeli sebuah buku semata-mata karena buku itu ditulis oleh seorang pemulung. Kenapa, ya? Apa karena mereka ingin mengenal sosok seorang gembel dengan lebih dekat? Rasanya kok, tidak juga. Karena nyaris dalam setiap masyarakat, golongan pengemis, gembel, pemulung gelandangan apalah namanya, akan selalu ada. Kenyataannya, reaksi kita saat bertemu mereka, entah di jalan raya atau di keramaian nyaris serupa: menghindar pura-pura tidak melihat. Sekarang, salah seorang dari mereka menulis tentang kehidupannya dan tiba-tiba kita semua antusias memburu buku itu seakan kita haus dan tertarik dengan sosoknya. Di tempat asal Carolina Maria de Jesus – entah mengapa atau untuk apa – pada suatu waktu, membaca catatan seorang pemulung menjadi sebuah tren.

Sore tadi, di dalam bis, seorang anak kecil duduk di depan saya. Ketika beranjak dari bangku hendak turun dari bis, ia memalingkan wajahnya dan secara spontan saya membuang muka karena jijik melihat muka yang dipenuhi ingus dan tahi mata. Tubuh kurus kecilnya limbung saat berdiri menunggu bis berhenti. Namun begitu saya diam saja, enggan mengulurkan tangan untuk memegangi anak itu karena saya sudah keburu ngeri membayangkan jutaan kuman yang mungkin bertengger di tubuh kumal itu.

Selama ini saya merasa sebagai seorang yang memiliki hati berbelas kasih. Saya yakin bahwa seandainya Tuhan menyuruh untuk melayani gelandangan, saya bisa melakukannya dengan kasih. Tetapi saya membaca kisah hidup seorang pemulung, saya tidak tersentuh. Lebih parah lagi, ketika melihat salah seorang dari mereka, saya malah memalingkan muka. Saya sekarang tidak tahu batas kasih yang saya miliki. Mungkin saya hanyalah serang utopis yang merasa dirinya bisa menjadi seperti Bunda Teresa tapi tak mau tangannya kotor….

1 Mei 2000

” Banyak orang bangga saat melayani kaum miskin. Sayangnya, tidak ada orang yang bangga bergaul dengan orang miskin. ” BundaTeresa

Advertisements