Grow Old Gracefully

Hari ini di angkot, dalam perjalanan kembali ke kantor dari makan siang, saya bertemu seorang nenek tua yang buta. Dia sendirian dan pakaiannya tampak lusuh dan kusam. Jari-jarinya sesekali bergetar, membuat genggamannya pada tongkat tampak mengkhawatirkan. Dan memang melihat sosoknya, entah kenapa saya menjadi gusar. Haruskah ia tampak begitu susah payah di usia tua? Haruskah ia dalam keterbatasan fisik yang demikian, berjalan sendirian? Kalau nanti ada apa-apa, bagaimana?

Dia turun dari angkot sebelum saya, setelah mengucapkan terima kasih kepada supir angkot seraya tangannya meraba mencari pegangan. Luar biasa, sekalipun buta ia bisa turun dengan mulus tanpa kaki tersandung ataupun kepala terantuk. “Malaikat pasti menjaganya,” bisik batin saya untuk menenangkan hati.

Ingin rasanya saya membayari ongkos atau menawari makan siang. Tapi sungguh saya tak tahu bagaimana menyampaikan keinginan itu padanya dengan cara yang berkenan di hatinya. Saya takut jika ternyata saya menawari hal yang tidak ia butuhkan dan malahan membuat ia tersinggung atau malu. Alhasil, selama lima menit kebersamaan kami di dalam angkot, saya hanya mengamatinya dalam diam.

Menjadi tua secara biologis adalah sebuah keniscayaan. Seberapapun usia kita, jika kita masih ada di muka bumi hari ini maka sudah pasti kita telah lebih tua dari kita hari kemarin. Dan bagi saya, tidak ada yang lebih menghancurkan hati daripada menyaksikan orang yang hidup nestapa di masa tuanya; yang menghabiskan sisa waktu di muka bumi dengan susah payah sembari menghitung hari dan masih bertanya-tanya apa arti dari keberadaannya selama ini di dunia.

Tentu saja saya akan jadi sangat lancang jika mengatakan bawa nenek tua yang saya jumpai tadi di dalam angkot hidupnya nestapa. Tahu dari mana? Tetapi apa yang terlintas di benak dan hati Anda ketika melihat nenek tua yang jari-jarinya gemetaran, memegang tongkat karena buta, berjalan sendirian naik kendaraan umum di kota ramai dan garang semacam Jakarta? Bagi saya, perjumpaan ini membuat saya berpikir tentang bagaimana saya menjadi tua. Dear Lord, I want to grow old gracefully. 

Saya percaya hidup bukanlah sebuah pertanyaan yang harus dijjawab melainkan sebuah tugas yang harus diselesaikan. Setiap pribadi punya misi yang harus ditunaikan selama hidup di bumi. Misi apa, tugas apa, Tuhan Maha Bijaksana yang menentukan. Tapi yang pasti, no one lives for nothing. 

To grow old gracefully menurut saya adalah ketika seseorang menjalani hari-hari di masa senjanya dengan rasa puas, bersyukur, sejahtera, dan bangga. Bukan karena punya fisik yang sempurna atau harta yang melimpah namun karena ia tahu bahwa ia telah dan sedang melaksanakan tugas yang menjadi tanggung jawabnya termasuk memelihara dirinya dengan baik. Growing old gracefully must be closely related with owning self dignity. Hidup dengan rasa puas dan bersyukur atas pilihan yang selama ini dibuat dan bukannya pasrah karena merasa sudah tidak punya pilihan. Sejahtera bukan karena mampu memiliki apa saja yang diingini melainkan karena memang mengingini apa yang dimiliki.

Walau tidak semua keputusan yang kita buat dan pilihan yang kita ambil adalah baik atau sempurna, tetapi selama kita masih bernafas, saya percaya masih ada harapan dan kesempatan untuk mengakhiri hidup gracefully. Jadi, jangan pernah menyerah.

Yes, I want to grow old gracefully. In fact, I want every one to live a graceful life. Terlebih mereka yang telah berada di masa senja.

 So help us God.

Advertisements